The Mirror of My SouL

Blog ini dibuat sebagai media sharing puisi kepada khalayak luas, semoga bisa menjadi inspirasi bagi setiap yang membacanya. PeaCe!!

Tuesday, February 07, 2006

Tepi Jalan

Tepi jalan yang sepi menyapa wajah kita
tubuhmu masih lelap mendekap mimpi
tentang hujan yang dideraskan langit saat malam.

Tidak banyak yang telah terjadi setelah kita berjalan
berlawanan arah. Hanya punggungku menyimpan sejarah
dan punggungmu memanggul senjata di perbatasan.

Masih di tepi jalan, genangan air mata perempuan
mulai membasahi tanah. Lelaki yang hilang, kanak-kanak
yang terbujur kaku, huma pun menjadi sepenggal tanya.
Mengapa begitu banyak darah dan air mata di negeri ini?

Monday, February 06, 2006

Bagaimana Mencintaimu

Bagaimana mencintaimu, negeri? Jika begitu banyak virus mematikan, bencana, kelaparan dan kemiskinan mengikat mataku? Bagaimana mencintaimu, bangsa? Jika kematian menjadi santapan anak-anakku?

Wednesday, February 01, 2006

Kegelisahan Di Pinggangmu

Di atas dua roda yang melaju
kita berbincang tentang kata-kata,
tentang sajak, tentang kekuatannya
menyusupi labirin kepala manusia.
Tanganku melingkar cemas di pinggangmu,
gerimis mulai muntah. Dan aku basah dengan
anxiety mengaburi kornea.
Kita pun menjelma sajak yang bisu,
menyusupi kemacetan kuyup, labirin gigil,
dan kegelisahan di kepala.
Tentang lelaki tua di dalam sebuah sel.
Tentang gaji yang tak jua terbayar.
Tentang kanak-kanak yang menjelma cemara.
Tentang tumpukan kertas-kertas menanti setoran.
Namun kita adalah sajak yang membisu.
Sajak tanpa kekuatan yang melingkar di pinggangmu.
"Jalan semakin basah, jangan bergumam" bisikmu kabur.
Pada mataku, wajahmu menjelma trotoar, yang semakin
sesak dihinggapi kegelisahanku.

Unknown Zone

Aku bernafas, berpikir, dan menembus
zona-zona yang tak kukenal.
Suara-suara begitu bising, menggigit
gendang telingaku yang rapuh.
Nama-nama begitu asing semacam infeksi
yang membakar tenggorokan dalam mengejanya.
Kakiku berputar laksana gasing, berkejaran dengan
kecepatan cahaya yang tak terukur.
Satu demi satu kecepatan itu merampas sendiku,
jari-jariku, rambut, tengkorak, gigi, ginjal,
payudara, rahimku menuju lubang hitam tanpa atmosfer.
Kini, aku menjadi asing yang bising, melayang-layang
pada zona-zona yang tak kukenal. Mengigau di sepanjang
usia. Meraba-raba pada dunia yang kaku dan orang-orang
yang beku.
"Aku begitu asing"
"Begitu asing"